DO NOT MISS

Senin, 23 November 2015

VIDEO: Kenapa Bumi itu Bulat, Tidak Kotak?



Info Astronomy - Kenapa Bumi itu bulat? Tidak kotak? Ini memang seperti pertanyaan yang bodoh, tapi justru banyak dari kita yang menerima mentah-mentah saja fakta bahwa Bumi itu bulat. Kenapa tidak kotak?

Hal yang menyebabkan Bumi itu bulat, pendeknya adalah gravitasi. Semua (benda) yang punya massa di alam semesta ini, pasti juga punya gravitasi. Termasuk mobil, pohon dan orang. Dalam hukum gravitasi: massa menarik massa yang lainnya. Itu sebabnya kenapa Bumi mengorbit matahari, dan bulan mengorbit Bumi: Karena massa yang saling menarik.


Belum mengerti kenapa bentuk Bumi kita bulat? Simak video menarik di bawah ini:

Astronot Sunita Williams Dengarkan Suara Adzan di Bulan? Hoax!



Info Astronomy - Belakangan ini sedang beredar kabar tentang seorang astronot India bernama Sunita Williams yang dikatakan mendengar suara adzan di Bulan. Sayangnya, Sunita belum pernah ke Bulan semasa hidupnya, dan dia merupakan orang asli Amerika Serikat.

Kami sangat tertegun membaca sebuah berita bohong yang pasti tidak akan mau dipertanggung jawabkan oleh sang penyebar yang berisi:

Sunita Wiliams wanita kelahiran India tahun 1965. Dia wanita India pertama yang pergi ke bulan pada 9 Juli 2011. Sekembalinya dari bulan, ia langsung masuk memeluk agama Islam. Dia berkata: "Dari bulan seluruh bumi kelihatan hitam dan gelap, kecuali 2 tempat yang terang dan bercahaya. Ketika aku liat dengan teleskop ternyata tempat itu adalah Mekah dan Madinah. Dan di bulan semua frekuensi suara tidak berfungsi tapi aku masih mendengar suara adzan.

Mari kita bahas.
Pertama, Sunita Williams bukanlah orang India. Sunita, menurut NASA, adalah perwira Angkatan Laut Amerika Serikat dan astronot NASA kelahiran 19 September 1965. Dia ditugaskan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) sebagai anggota Ekspedisi 14 dan kemudian bergabung dengan Ekspedisi 15. Dia memegang rekor perempuan yang melakukan penerbangan luar angkasa terlama (195 hari).
Pada tahun 2011, seperti dituliskan dalam berita bohong di atas, Sunita pergi ke Bulan. Tapi sayangnya, tidak ada misi pendaratan manusia di Bulan pada tahun 2011. Misi pendaratan di Bulan oleh NASA yang terakhir terjadi pada tahun 1976 silam. Manusia tak pernah berkunjung ke satu-satunya satelit alami milik Bumi ini sejak saat itu.
Kedua, suara adzan atau suara apapun dari Bumi tidak akan pernah terdengar dari Bulan. Jarak Bumi-Bulan yang relatif jauh (sekitar 380.000 km) ditambah luar angkasa yang merupakan ruang vakum, sangat tidak memungkinkan sebuah suara dapat merambat di ruang hampa udara tersebut. Sementara pendengaran manusia yang hanya antara 20 hertz sampai dengan 20.000 hertz juga tidak bisa mendegar suara-suara di Bumi ketika berada di Bulan, dan juga sebaliknya.
Sebagai perbandingan, pernahkah Anda mendengarkan suara orang-orang yang berada di dalam pesawat ketika sedang terbang di langit atas rumah Anda? Pesawat terbang tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Bulan, namun mendengarkan suara orang-orang di dalam pesawat tetap tidak mungkin dilakukan.
Jika keimanan didasarkan pada keajaiban-keajaiban, agama Islam begitu menjunjung tinggi rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Agama Islam bahkan memerintahkan agar orang beragama dengan ilmu, bukan sekadar ikut-ikut. Ikut-ikut menipu.
Seringkali kita jadi penyebar hoax tanpa kita menyadarinya karena "kekaguman" pada sejenis keajaiban. Ini sangat berbahaya, menurut penulis, karena kita jadi merasa tidak bersalah bahkan seolah-olah berjasa menguatkan iman, tanpa kita berpikir dan memeriksa informasi tersebut. Bukankah justru kita malah menambah dosa dengan membodohi orang lain?
Dan ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat awam yang sekolahnya hanya SD, tapi juga terjadi di kalangan manusia kelas sarjana. Perlu dicatat bahwa kejelian atau intuisi terhadap sebuah informasi, pada kenyataannya, tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat sekolah kita, tingkat gelar pada nama kita.
Yang mengenaskan tentu saja karena cerita di atas dikaitkan dengan agama, dengan keyakinan, dan sangat riskan jadi bahan olok-olok kepada agama tertentu. Bagi penulis, keimanan yang kuat bukanlah sesuatu yang timbul dari "kesaksian" (apalagi kesaksian palsu yang terus disebarluaskan dan diulang-ulang sehingga ada ribuan orang yang pernah mendengar dan dijadikan justifikasi bahwa cerita itu benar, "karena ada ribuan orang mendengar cerita itu") atas keajaiban.
Keimanan itu dari ilmu. Keajaiban cenderung membuat kita lemah, bukan menguatkan, karena toh di agama lain juga banyak kesaksian soal "keajaiban-keajaiban." Kembali menurut penulis, sebagai orang beriman, kita hanya cukup mempercayai suatu keajaiban, tanpa harus membuktikan keajaiban tersebut.
Lah, bagaimana kalau seandainya ini beneran? Bukan hoax?

Karena "seandainya" akan selalu kalah dengan bukti ilmiah. Mari lebih membuka pikiran.

Source : http://www.infoastronomy.co.vu

Para Astronom Observasi Kelahiran Galaksi-galaksi Raksasa



Info Astronomy - Para astronom di European South Observatory (ESO) telah berhasil mengamati 574 galaksi raksasa yang sebelumnya tidak diketahui menggunakan Teleskop VISTA. Seluruh galaksi ini adalah galaksi raksasa pertama yang terbentuk di alam semesta, antara 1 hingga 1,5 miliar tahun setelah Big Bang.

Galaksi-galaksi raksasa ini memiliki massa setidaknya 50 miliar kali dari massa Matahari, atau sebanding dengan massa galaksi Bima Sakti kita. Menariknya, para astronom ternyata menemukan dua kali lebih banyak galaksi raksasa dari jumlah galaksi yang diperkirakan, yang juga bertentangan dengan model pembentukan galaksi saat ini.

"Kami menemukan 574 galaksi masif baru, sebuah kumpulan galaksi terbesar yang tersembunyi dari alam semesta awal," jelas Karina Caputi, penulis utama studi tersebut, dalam sebuah pernyataan. "Mempelajari mereka memungkinkan kita untuk menjawab pertanyaan sederhana namun penting: kapan galaksi raksasa pertama tercipta?"

Para astronom berasumsi bahwa benih dari bintang-bintang pertama dan galaksi pertama di alam semesta mulai terbentuk sekitar 150 juta tahun setelah Big Bang. Objek-objek kecil tercipta pertama, dan mereka kemudian bergabung untuk membentuk objek yang lebih besar. Prosesnya relatif lambat, bahkan sebuah galaksi raksasa butuh setidaknya miliaran tahun untuk terbentuk sempurna.

Rincian yang tepat tentang bagaimana galaksi raksasa terbentuk untuk kali pertama dan memperoleh massanya yang masif masih misterius, dan memecahkan misteri ini adalah salah satu tujuan penelitian VISTA. Sebuah teleskop yang digunakan untuk mensurvei seluruh langit selatan, dan perlahan-lahan menciptakan sensus galaksi jauh.

Berdasarkan jumlah objek yang diamati oleh tim astronom dari ESO ini, sebagian besar galaksi raksasa yang teramati di alam semesta saat ini sudah terbentuk sejak 10 miliar tahun yang lalu. Galaksi-galaksi ini akan diobservasi lebih lanjut dengan teleskop berbasis darat lainnya, yang diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang bagaimana galaksi raksasa terbentuk.

Makalah studi ini telah dipublikasikan dalam Astrophysical Journal.

Source : http://www.infoastronomy.co.vu

"Diasingkan" dari Sumatera, Kini Pulau Ini Memberi Kejutan bagi Indonesia


KOMPAS.com — "Diasingkan" dari Sumatera oleh proses geologi, Pulau Enggano yang terletak di Provinsi Bengkulu kini memberi kejutan bagi Indonesia. Ekspedisi penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap flora serta fauna khas dan belum dikenal sebelumnya.

Jenis baru flora bahkan dijumpai pada bangsa tanaman yang sudah dikenal luas. Jahe misalnya. Peneliti LIPI menemukan jahe yang tidak seperti jahe umumnya yang dibuat wedang. Jahe yang dinamai Zingiber engganoensis itu berbeda dengan jahe lain dari daunnya yang lebih tipis serta bunganya yang khas.

Amir Hamidy, koordinator ekspedisi Enggano, mengungkapkan bahwa kebaruan spesies jahe itu telah dikonfirmasi dengan analisis DNA. "Bulan depan mungkin sudah akan terbit publikasi spesies baru ini," ungkapnya dalam konferensi pers di LIPI, Kamis (5/11/2015).

Selain jahe, peneliti juga meyakini bahwa jenis salak yang ditemukan di Enggano merupakan jenis baru. Salak itu sekarang dideskripsikan sebagai asam kelubi (Eleiodoxa conferta). Namun, penampakannya mirip dengan salak umumnya, Sallaca affinis. Peneliti menduga, salak itu khas Enggano.

Dari golongan fauna, peneliti LIPI meyakini ada dua jenis burung baru. Salah satu jenis burung baru adalah burung hantu, Ninox spp. Jenis lain adalah raja udang, Alcedo spp. Raja udang di Enggano berbeda signifikan dengan jenis yang sama di Pagai dan Mentawai.

Dari golongan katak, Amir sebagai peneliti amfibi meyakini ada dua jenis baru. Ia mengatakan, setiap katak memiliki bahasa yang berbeda untuk menarik pasangan. "Bahasa antara katak di Bengkulu dengan di Enggano berbeda. Kalau sudah bahasanya berbeda, berarti jenisnya juga berbeda," ujarnya.

Dari spesies-spesies yang telah didata, peneliti memperkirakan ada 14 spesies yang diyakini pasti baru. "Satu tumbuhan, 2 katak sudah yakin baru karena analisis genetiknya sudah keluar, 2 kelelawar, 1 jenis ikan, 2 jenis udang, 2 jenis capung, dan 4 jenis kupu-kupu," urai Amir.

Enggano tidak hanya memberi kejutan karena jenis-jenisnya baru, tetapi juga karena adanya jenis yang tak diduga bisa ditemukan. Salah satunya adalah ular Coelognathus enganensis. Selama 80 tahun, ular itu menghilang. Ekspedisi Enggano pada April-Mei 2015 lalu berhasil menemukannya kembali.

Kejutan lain adalah udang jenis Macrobrachium bariense dan M placidulum. Biasanya, dua jenis udang tersebut dijumpai di timur garius Wallacea atau secara umum di timur Sulawesi. Namun, untuk pertama kalinya, dua jenis itu dijumpai di bagian barat Indonesia.

Dua jenis udang itu dijumpai dalam ukuran yang lebih kecil. Bila di timur garis Wallace ukurannya antara 20-30 sentimeter, di Enggano ukurannya hanya 10-15 sentimeter. Karena itu, para peneliti LIPI meyakini bahwa dua udang tersebut merupakan jenis baru.

Beragam kejutan berupa keanekaragaman hayati bisa dijumpai di Enggano karena pulau tersebut terpisah dari Sumatera. "Karena mengalami isolasi, perkembangan evolusi biotanya juga berbeda. Jadi, biota di Enggano sangat khas dan endemisitasnya tinggi," kata Amir.

Source : kompas.com

Sabtu, 21 November 2015

Eksoplanet yang Mirip Bumi Kemungkinan Tidak Bisa Dihuni


Sebuah eksoplanet yang dianggap paling menyerupai Bumi kemungkinan tidak bisa dihuni akibat banyaknya radiasi yang diterimanya, menurut para ilmuwan.

Dalam Jurnal Mingguan Royal Astronomical Society, para ilmuwan di University of Warwick mengatakan atmosfer Kepler-438b kemungkinan terkikis akibat badai matahari yang dihasilkan oleh matahari planet tersebut, yaitu Red Dwarf Kepler-438.

Para ilmuwan mengatakan badai matahari tersebut berlangsung secara reguler "setiap beberapa ratus hari," dan sering kali jauh lebih kuat daripada badai matahari yang berasal dari matahari kita. Untuk memahami seberapa kuat badai matahari tersebut, para ilmuwan mengatakan kira-kira sama dengan 100 miliar megaton TNT.

Tapi badai matahari tersebut tidak cukup untuk mengikis atmosfer sebuah planet. Lontaran massa korona (coronal mass ejection) atau semburan gas dan medan magnet dari korona matahari dan dilepaskan ke angin matahari, yang menyertai badai matahari bisa mengikis atmosfer dan memaparkannya pada radiasi UV dan sinar X yang merusak.

“Tidak seperti matahari Bumi yang cukup tenang, Kepler-438 terpapar badai matahari kuat setiap beberapa ratus hari, setiap kali semakin kuat daripada badai matahari terkuat yang pernah dihasilkan matahari," kata David Armstrong dari kelompok astrofisika University of Warwick. “Badai matahari ini kemungkinan terkait dengan lontaran massa korona, yang mungkin menyebabkan dampak buruk bagi habitat planet tersebut."

“Bila planet Kepler-438b, mempunyai medan magnet seperti Bumi, mungkin akan terlindung dari efeknya. Namun, bila tidak, atau bila badai mataharinya kuat, planet Kepler-438b bisa jadi kehilangan atmosfernya, dan disinari oleh radiasi berbahaya tambahan lalu akan menjadi tempat yang sulit untuk dihuni."

Kepler-438b diduga ukurannya mirip dengan Bumi dan mempunyai suhu yang sama.

Source : http://www.voaindonesia.com
 
Copyright © 2014 Alpha Centauri Science Club. Designed by OddThemes