DO NOT MISS
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 November 2015

"Diasingkan" dari Sumatera, Kini Pulau Ini Memberi Kejutan bagi Indonesia


KOMPAS.com — "Diasingkan" dari Sumatera oleh proses geologi, Pulau Enggano yang terletak di Provinsi Bengkulu kini memberi kejutan bagi Indonesia. Ekspedisi penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap flora serta fauna khas dan belum dikenal sebelumnya.

Jenis baru flora bahkan dijumpai pada bangsa tanaman yang sudah dikenal luas. Jahe misalnya. Peneliti LIPI menemukan jahe yang tidak seperti jahe umumnya yang dibuat wedang. Jahe yang dinamai Zingiber engganoensis itu berbeda dengan jahe lain dari daunnya yang lebih tipis serta bunganya yang khas.

Amir Hamidy, koordinator ekspedisi Enggano, mengungkapkan bahwa kebaruan spesies jahe itu telah dikonfirmasi dengan analisis DNA. "Bulan depan mungkin sudah akan terbit publikasi spesies baru ini," ungkapnya dalam konferensi pers di LIPI, Kamis (5/11/2015).

Selain jahe, peneliti juga meyakini bahwa jenis salak yang ditemukan di Enggano merupakan jenis baru. Salak itu sekarang dideskripsikan sebagai asam kelubi (Eleiodoxa conferta). Namun, penampakannya mirip dengan salak umumnya, Sallaca affinis. Peneliti menduga, salak itu khas Enggano.

Dari golongan fauna, peneliti LIPI meyakini ada dua jenis burung baru. Salah satu jenis burung baru adalah burung hantu, Ninox spp. Jenis lain adalah raja udang, Alcedo spp. Raja udang di Enggano berbeda signifikan dengan jenis yang sama di Pagai dan Mentawai.

Dari golongan katak, Amir sebagai peneliti amfibi meyakini ada dua jenis baru. Ia mengatakan, setiap katak memiliki bahasa yang berbeda untuk menarik pasangan. "Bahasa antara katak di Bengkulu dengan di Enggano berbeda. Kalau sudah bahasanya berbeda, berarti jenisnya juga berbeda," ujarnya.

Dari spesies-spesies yang telah didata, peneliti memperkirakan ada 14 spesies yang diyakini pasti baru. "Satu tumbuhan, 2 katak sudah yakin baru karena analisis genetiknya sudah keluar, 2 kelelawar, 1 jenis ikan, 2 jenis udang, 2 jenis capung, dan 4 jenis kupu-kupu," urai Amir.

Enggano tidak hanya memberi kejutan karena jenis-jenisnya baru, tetapi juga karena adanya jenis yang tak diduga bisa ditemukan. Salah satunya adalah ular Coelognathus enganensis. Selama 80 tahun, ular itu menghilang. Ekspedisi Enggano pada April-Mei 2015 lalu berhasil menemukannya kembali.

Kejutan lain adalah udang jenis Macrobrachium bariense dan M placidulum. Biasanya, dua jenis udang tersebut dijumpai di timur garius Wallacea atau secara umum di timur Sulawesi. Namun, untuk pertama kalinya, dua jenis itu dijumpai di bagian barat Indonesia.

Dua jenis udang itu dijumpai dalam ukuran yang lebih kecil. Bila di timur garis Wallace ukurannya antara 20-30 sentimeter, di Enggano ukurannya hanya 10-15 sentimeter. Karena itu, para peneliti LIPI meyakini bahwa dua udang tersebut merupakan jenis baru.

Beragam kejutan berupa keanekaragaman hayati bisa dijumpai di Enggano karena pulau tersebut terpisah dari Sumatera. "Karena mengalami isolasi, perkembangan evolusi biotanya juga berbeda. Jadi, biota di Enggano sangat khas dan endemisitasnya tinggi," kata Amir.

Source : kompas.com

Sabtu, 21 November 2015

Eksoplanet yang Mirip Bumi Kemungkinan Tidak Bisa Dihuni


Sebuah eksoplanet yang dianggap paling menyerupai Bumi kemungkinan tidak bisa dihuni akibat banyaknya radiasi yang diterimanya, menurut para ilmuwan.

Dalam Jurnal Mingguan Royal Astronomical Society, para ilmuwan di University of Warwick mengatakan atmosfer Kepler-438b kemungkinan terkikis akibat badai matahari yang dihasilkan oleh matahari planet tersebut, yaitu Red Dwarf Kepler-438.

Para ilmuwan mengatakan badai matahari tersebut berlangsung secara reguler "setiap beberapa ratus hari," dan sering kali jauh lebih kuat daripada badai matahari yang berasal dari matahari kita. Untuk memahami seberapa kuat badai matahari tersebut, para ilmuwan mengatakan kira-kira sama dengan 100 miliar megaton TNT.

Tapi badai matahari tersebut tidak cukup untuk mengikis atmosfer sebuah planet. Lontaran massa korona (coronal mass ejection) atau semburan gas dan medan magnet dari korona matahari dan dilepaskan ke angin matahari, yang menyertai badai matahari bisa mengikis atmosfer dan memaparkannya pada radiasi UV dan sinar X yang merusak.

“Tidak seperti matahari Bumi yang cukup tenang, Kepler-438 terpapar badai matahari kuat setiap beberapa ratus hari, setiap kali semakin kuat daripada badai matahari terkuat yang pernah dihasilkan matahari," kata David Armstrong dari kelompok astrofisika University of Warwick. “Badai matahari ini kemungkinan terkait dengan lontaran massa korona, yang mungkin menyebabkan dampak buruk bagi habitat planet tersebut."

“Bila planet Kepler-438b, mempunyai medan magnet seperti Bumi, mungkin akan terlindung dari efeknya. Namun, bila tidak, atau bila badai mataharinya kuat, planet Kepler-438b bisa jadi kehilangan atmosfernya, dan disinari oleh radiasi berbahaya tambahan lalu akan menjadi tempat yang sulit untuk dihuni."

Kepler-438b diduga ukurannya mirip dengan Bumi dan mempunyai suhu yang sama.

Source : http://www.voaindonesia.com

Rasa Cokelat akan Semakin Beragam

Dalam waktu dekat, pecinta cokelat bisa menikmati cokelat rasa baru.


Dalam jurnal Applied and Environmental Microbiology, peneliti dari Belgia, negara yang terkenal karena cokelatnya, mengatakan ragi lain yang digunakan dalam tahap fermentasi produksi cokelat menghasilkan rasa dan aroma berbeda pada produk akhir.
Tim peneliti semula mencari ragi "kuat" yang bisa mengalahkan jenis ragi lain, yang tidak diinginkan dalam proses fermentasi.
Dalam fermentasi, biji cokelat itu "dikelilingi bubur lengket, yang difermentasi ragi dan bakteri, memungkinkan ragi dan bakteri lain menyusup, kemudian mungkin mengubah rasa dengan cara yang tidak diinginkan," papar peneliti.
Yang terjadi, masing-masing jenis ragi yang kuat menghasilkan karakteristik berbeda pada cokelat, bahkan ketika menggunakan resep yang sama.
Rasa berbeda itu bertahan bahkan setelah biji yang difermentasi itu menjalani proses pengeringan dan pemanggangan.
Source : http://www.voaindonesia.com
 
Copyright © 2014 Alpha Centauri Science Club. Designed by OddThemes