DO NOT MISS

Selasa, 08 Desember 2015

Astronom Berhasil Pelajari Medan Magnet Lubang Hitam untuk Pertama Kali

Info Astronomy - Sebuah tim astronom untuk pertama kalinya berhasil memelajari medan magnet yang berada di sekitar cakrawala peristiwa (event horizon) Lubang Hitam Sagitarius A*, sebuah Lubang Hitam Supermasif yang terletak di pusat galaksi Bima Sakti.

Tim astronom internasional ini menemukan bahwa medan magnet dari Lubang Hitam sangat rumit dan bervariasi. Beberapa bagian dari event horizon (sebuah batas pada Lubang Hitam yang bahkan cahaya tidak dapat melarikan diri) terlihat berantakan dan campur aduk, sementara daerah lain memiliki struktur magnetik yang terlihat dalam berbagai macam pola. Medan magnet juga berfluktuasi secara liar.

"Memahami medan magnet Lubang Hitam ini sangat penting. Sebelumnya tidak ada yang mampu untuk memelajari dan mengamati medan magnet di dekat event horizon sampai sekarang," kata pemimpin penulis studi, Michael Johnson seperti dikutip dari IFLScince.com. "Sekali lagi, pusat galaksi ini membuktikan menjadi tempat yang lebih dinamis dari yang kita duga. Medan magnet menari seluruh wilayah Lubang Hitam."

Lubang Hitam Supermasif yang berada di pusat Bima Sakti ini memiliki massa setara dengan 4 juta kali massa Matahari, danevent horizon-nya terbentang sekitar 13 juta kilometer, atau 40 kali jarak dari Bumi ke Bulan. Sementara itu, Lubang Hitam Supermasif Sagitarius A*  berjarak sekitar 25.000 tahun cahaya dari Bumi, membuat ia takkan berdampak apapun terhadap Bumi kita.

Pengamatan medan magnet Sagittarius A* ini dilakukan dengan menggunakan Event Horizon Telescope, sebuah jaringan global teleskop radio yang menghubungkan para astronom secara bersama-sama untuk memelajari Lubang Hitam di luar angkasa/

Lubang Hitam dapat menghasilkan jet kuat, menembak partikel hampir kecepatan cahaya. Meskipun mekanisme Lubang Hitam untuk menghasilkan jet telah lama dipahami, ini adalah pertama kalinya manusia berhasil melalukan pengamatan langsung dari medan magnet Lubang Hitam.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Science.
Source : http://www.infoastronomy.co.vu/

Wahana Antariksa Akatsuki milik Jepang Dekati Planet Venus

Info Astronomy - Lima tahun setelah hilang momentum untuk masuk orbit Venus, wahana antariksa Akatsuki milik Japan Aerospace and eXploration Agency (JAXA) kini telah menyelesaikan pembakaran roket pada 7 Desember 2015 dalam upaya untuk menjadi satu-satunya wahana antariksa yang mengunjungi Planet Venus.

Empat pendorong manuver milik Akatsuki telah dinyalakan pada pukul 06:51 WIB hari Minggu, 6 Desember 2015 sekitar 20 menit 30 detik untuk memperlambat wahana antariksa ini agar dapat "tertangkap" gravitasi Venus sehingga bisa mengorbit pada ketinggian tertentu.

"Akatsuki dalam orbit Venus!" tulis Sanjay Limaye, seorang ilmuwan keplanetan yang berbasis di University of Wisconsin di Madison, seperti dilansir adri Spaceflightnow, 6 Desember 2015.

Venus berjarak 149.500.000 kilometer dari Bumi pada saat kedatangan Akatsuki dua hari yang lalu. Dengan begitu, butuh sinyal radio lebih dari 8 menit untuk melakukan komunikasi antara stasiun kontrol misi di Bumi dengan wahana antariksa Akatsuki.

Wahana antariksa Akatsuki ditargetkan akan berada pada orbit dengan titik tinggi hingga 475.000 kilometer dari Venus, lebih jauh dari jarak Bumi-Bulan, menurut Takeshi Imamura, seorang ilmuwan proyek Akatsuki di Space and Astronautical Science Institute JAXA.

Akatsuki, menurut Imamura, adalah wahana penyelidik antarplanet pertama di dunia yang layak disebut sebagai satelit meteorologi. Wahana antariksa seberat 480 kilogram itu membawa lima kamera berbeda untuk mempelajari awan Venus, sekaligus memetakan cuaca planet itu dan mengintip permukaan planet lewat atmosfer tebalnya.

Akatsuki yang berarti Subuh atau Dinihari dalam Bahasa Jepang ini akan bergabung dengan wahana antariksa Venus-Express milik Eropa yang telah terlebih dulu mengorbit di sekitar planet terpanas di Tata Surya itu.

"Venus kini telah bertransformasi dari sebuah tempat yang mirip Bumi menjadi tempat asing, dan apa yang menarik tentang planet itu adalah mengetahui bagaimana dia berbeda dari Bumi dan sejarah di balik apa yang terjadi," kata David Grinspoon, kurator astrobiologi di Denver Museum of Nature and Science, ilmuwan dalam misi Venus-Express. "Dia dapat membantu kita memahami bagaimana Bumi mungkin berubah kelak."

Salah satu target utama Akatsuki adalah untuk memahami misteri terbesar Venus, yaitu rotasi super atmosfernya. Berbeda dengan atmosfer bumi yang "ramah", Venus memiliki atmosfer berupa angin kencang yang mendorong awan dan badai mengelilingi planet itu dengan kecepatan lebih dari 360 kilometer per jam, atau hampir 60 kali lipat lebih cepat daripada rotasi planet itu sendiri.

"Tak ada model iklim Venus konsisten yang dapat meniru superrotasi itu," kata Grinspoon. "Kami mengambil pemodelan sirkulasi umum dari Bumi dan mengutak-atiknya agar sesuai dengan Venus, tapi pemodelan itu tidak cocok. Dengan lebih memahami bagaimana iklim Venus bekerja, itu akan membantu kami mengetahui bagaimana perubahan iklim Bumi berlangsung."

Akatsuki akan memonitor Venus dalam sinar inframerah untuk lebih banyak mempelajari atmosfer dan permukaannya di bawah awan tebal tersebut, dan diharapkan dapat mengungkap mekanisme yang mendorong superrotasi itu. Namun Imamura mengatakan timnya telah siap dikejutkan oleh penemuan tak terduga yang mungkin bakal menguak lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. "Kami akan amat senang dikagetkan oleh munculnya misteri yang jauh lebih besar daripada superrotasi," ujarnya.

Venus memang memiliki awan tebal, tapi awannya tersusun dari asam sulfur, bukan air dan kristal es. "Mungkin ada sejenis cuaca yang belum pernah kami lihat di Venus, yang menyebabkan kilat itu, atau mungkin kami keliru soal kondisi yang diperlukan untuk melahirkan sebuah kilat," ujarnya.

Akatsuki akan dapat menangkap petunjuk vital tentang kilat itu dengan sebuah kamera yang khusus dirancang untuk mengabadikannya. Sementara target lain yang diemban oleh Akatsuki adalah menyelidiki garis aneh yang terdapat di lapisan teratas awan Venus, yang dijuluki "blue absorber" karena mereka menyerap cahaya dalam panjang gelombang biru dan ultraviolet dengan amat kuat. Alat pencitra ultraviolet Akatsuki diharapkan bisa menyelidiki garis ganjil itu.

Garis itu amat menarik perhatian para ilmuwan karena aksi tersebut menyerap energi dalam jumlah besar, hampir separuh total energi surya yang diserap Venus. Tampaknya penyerapan itu memainkan peran utama dalam menjaga Venus tetap seperti saat ini, dengan temperatur permukaan lebih dari 460 derajat Celsius. "Kami tak tahu zat apa itu," kata Grinspoon. "Kemungkinan itu adalah sejenis senyawa sulfur, tapi kami belum dapat mengungkapnya hingga saat ini."

Misteri lain yang menanti Akatsuki adalah kabut terang yang tiba-tiba menutupi dua per tiga belahan selatan Venus pada 2007. Kabut itu mendadak lenyap beberapa hari kemudian. Belum diketahui apa yang memicu perubahan tersebut. "Kami menduga itu adalah semacam dinamika perputaran atmosfer yang menyuntikkan sulfur dioksida di atas awan, tapi kami belum bisa memastikannya," ujar Grinspoon.

Awan itu kemungkinan memperoleh pasokan energi dari sulfur yang dimuntahkan gunung-gunung berapi di Venus karena Grinspoon menduga sulfur yang terlihat di atmosfer seharusnya terurai setelah 10 hingga 30 juta tahun.

Namun awan Venus begitu tebal dan tak pernah ada yang melihat keberadaan gunung berapi di planet itu sehingga para ilmuwan dalam proyek Akatsuki berharap kamera satelit itu bisa menemukan gunung api aktif di balik awan tersebut. "Venus menjaga rahasianya rapat-rapat, dalam sebuah kondisi yang tak bisa ditembus," katanya.

Source : http://www.infoastronomy.co.vu/

Cassini Intip Permukaan Titan yang Ditutupi Kabut Tebal


Info Astronomy - Ini merupakan citra inframerah gabungan dari satelit alami terbesar milik Planet Saturnus, Titan, yang diambil pada 13 November 2015 oleh wahana antariksa Cassini milik NASA. Cassini memotretnya dengan instrumen bernamaVisual and Infrared Mapping Spectrometer (VIMS), di mana biru mewakili panjang gelombang yang berpusat di 1,3 mikron, hijau mewakili 2,0 mikron, dan merah mewakili 5.0 mikron.

Pandangan pada panjang gelombang tampak (berpusat di sekitar 0,5 mikron) hanya menampilkan suasana berkabut Titan. Panjang gelombang inframerah pada citra ini memungkinkan wahana antariksa Cassini untuk menembus kabut dan mengungkapkan permukaan Titan.

Selama terbang lintas dekat dengan Titan ini, wahana antariksa Cassini berada pada ketinggian 10.000 kilometer dari Titan, yang jauh lebih tinggi daripada terbang lintas dekat biasanya, yang sekitar 1.200 kilometer. Terbang lintas yang tidak terlau dekat ini memungkinkan instrumen VIMS untuk mengumpulkan pandangan dengan resolusi yang luas untuk memetrakan permukaan Titan.

Pada citra yang luar biasa menakjubkan ini menunjukan fitur paralel, permukaan gelap, daerah gundukan bernama Fensal (di utara) dan Aztlan (di selatan), yang membentuk huruf "H" terbalik di sekitar ekuator.

Titan yang Lebih Laik Huni Dibanding Mars
Selama ini, banyak orang berpikir bahwa Mars adalah planet yang paling laik dihuni setelah Bumi. Bisa dipahami memang, sebab Mars adalah planet yang paling sering digembar-gemborkan memiliki potensi untuk mendukung kehidupan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa ada tempat lain yang lebih mirip Bumi sehingga bisa dikatakan lebih laik huni.

Dr Dirk Schulze-Makuch dari Washington State University dalam publikasinya di jurnal Astrobiologi menyatakan, dalam pemeringkatan bahwa Titan, adalah benda langit paling laik huni, mengalahkan planet merah, Mars.

Dalam Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet yang dikembangkan, Titan meraih skor tertinggi. Bumi memiliki indeks 1. Sementara Titan adalah 0,64, diikuti Mars (0,59), disusul Europa yang merupakan satelit alami milik Jupiter (0,47).

Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet itu dikembangkan berdasarkan beberapa kriteria. Beberapa di antaranya adalah keberadaan batuan, air, energi, material organik, dan jarak planet dari bintangnya. Titan punya potensi laik huni sebab terbukti memiliki air dan energi.

Source : http://www.infoastronomy.co.vu/

Meyambut Gerhana Matahari 2016: Bagaimana Cara Aman Melihat Gerhana?


Info Astronomy - Sebuah peristiwa Gerhana Matahari Total bakal lintasi Indonesia pada 9 Maret 2016. Sebelum itu, kita harus hati-hati saat mengamati gerhana nanti, sebab sinar Matahari yang begitu terang dapat membakar retina mata dan membuat kebutaan. Berikut ini kami jelaskan bagaimana cara-cara aman melihat gerhana.


Dalam kehidupan sehari-hari, menatap Matahari secara langsung sangat berbahaya karena Matahari memancarkan sinar inframerah yang bisa merusak mata kita. Ketika terjadinya gerhana Matahari, mungkin kita akan jadi tergoda untuk menatap Matahari secara langsung.

Dampak buruk yang dapat terjadi apabila Anda melihat peristiwa gerhana matahari secara langsung bisa dari buta sementara, dalam kasus tertentu buta selama 2 hari hingga 3 bulan, atau kerusakan mata yang permanen atau buta selamanya.

Cara paling aman melihat gerhana matahari ialah dengan melakukan proyeksi menggunakan kamera pinhole (kamera lubang jarum) atau proyeksi menggunakan teleskop yang diarahkan ke Matahari dan akan memunculkan gambar Matahari ke selembar kertas. Sangat penting untuk diingat, jangan melihat matahari secara langsung dengan teleskop, cukup gunakan teleskopnya hanya sebagai proyektor.

Cara aman lainnya yaitu dengan menggunakan kacamata khusus untuk melihat gerhana Matahari, karena kacamata hitam biasa saja tidak cukup aman. Kacamata khusus ini memiliki filter yang aman untuk dipakai. Selain itu filter yang aman untuk melihat gerhana Matahari juga tersedia untuk teleskop ataupun teropong, jadi bisa digunakan untuk menikmati gerhana Matahari.

Ketika terjadi gerhana Matahari total, pada saat seluruh permukaan Matahari tertutupi Bulan, kita dapat melihat secara langsung ke arah Matahari tapi hanya untuk beberapa saat saja, dalam kisaran beberapa detik sampai beberapa menit saja. Harus mulai siap-siap ketika bulan sudah kelihatan bergerak pergi dan sedikit permukaan matahari mulai muncul lagi, segera melakukan lagi cara melihat yang aman.

Cara lainnya, adalah menggunakan air yang diisi kedalam bak besar. Anda dapat melihat gerhana Matahari dengan menghadap ke air di bak tadi (yang sudah diarahkan ke posisi gerhana Matahari). Selain tidak terlalu silau sehingga aman, cara ini adalah cara paling murah dan sederhana.

Jadi, sudah tahu mau melihat Gerhana Matahari 9 Maret 2016 nanti seperti apa? Simak informasi gerhana ini di sini untuk info daerah mana saja yang kebagian Gerhana Total dan Gerhana Sebagian.


Source : http://www.infoastronomy.co.vu/

VIDEO: Bagaimana Cara Astronot Tidur di Stasiun Luar Angkasa?


Info Astronomy - Di Bumi tercinta ini, kita biasa tidur dengan posisi badan direbahkan ke kasur atau alas tidur lainnya. Kita bisa melakukan hal itu karena di Bumi ada gaya gravitasi. Tapi bagaimana jika kita tidur di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang gravitasinya lemah?

Inilah kesulitan yang akan ditemui oleh para astronot yang tinggal di dalam ISS. Astronot tidak bisa merebahkan badannya di tempat tidur atau alas tidur. Jadi, bagaimana mereka tidur? Mereka tidur dengan mengikat badannya di dinding ISS, hal ini agar mereka tidak melayang-layang. Kan tidak lucu kalau saat bangun tiba-tiba sudah di Bulan. Hehehe.

Untuk lebih lengkapnya, silakan simak video di bawah ini.
Source : http://www.infoastronomy.co.vu/



Senin, 23 November 2015

VIDEO: Kenapa Bumi itu Bulat, Tidak Kotak?



Info Astronomy - Kenapa Bumi itu bulat? Tidak kotak? Ini memang seperti pertanyaan yang bodoh, tapi justru banyak dari kita yang menerima mentah-mentah saja fakta bahwa Bumi itu bulat. Kenapa tidak kotak?

Hal yang menyebabkan Bumi itu bulat, pendeknya adalah gravitasi. Semua (benda) yang punya massa di alam semesta ini, pasti juga punya gravitasi. Termasuk mobil, pohon dan orang. Dalam hukum gravitasi: massa menarik massa yang lainnya. Itu sebabnya kenapa Bumi mengorbit matahari, dan bulan mengorbit Bumi: Karena massa yang saling menarik.


Belum mengerti kenapa bentuk Bumi kita bulat? Simak video menarik di bawah ini:

Astronot Sunita Williams Dengarkan Suara Adzan di Bulan? Hoax!



Info Astronomy - Belakangan ini sedang beredar kabar tentang seorang astronot India bernama Sunita Williams yang dikatakan mendengar suara adzan di Bulan. Sayangnya, Sunita belum pernah ke Bulan semasa hidupnya, dan dia merupakan orang asli Amerika Serikat.

Kami sangat tertegun membaca sebuah berita bohong yang pasti tidak akan mau dipertanggung jawabkan oleh sang penyebar yang berisi:

Sunita Wiliams wanita kelahiran India tahun 1965. Dia wanita India pertama yang pergi ke bulan pada 9 Juli 2011. Sekembalinya dari bulan, ia langsung masuk memeluk agama Islam. Dia berkata: "Dari bulan seluruh bumi kelihatan hitam dan gelap, kecuali 2 tempat yang terang dan bercahaya. Ketika aku liat dengan teleskop ternyata tempat itu adalah Mekah dan Madinah. Dan di bulan semua frekuensi suara tidak berfungsi tapi aku masih mendengar suara adzan.

Mari kita bahas.
Pertama, Sunita Williams bukanlah orang India. Sunita, menurut NASA, adalah perwira Angkatan Laut Amerika Serikat dan astronot NASA kelahiran 19 September 1965. Dia ditugaskan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) sebagai anggota Ekspedisi 14 dan kemudian bergabung dengan Ekspedisi 15. Dia memegang rekor perempuan yang melakukan penerbangan luar angkasa terlama (195 hari).
Pada tahun 2011, seperti dituliskan dalam berita bohong di atas, Sunita pergi ke Bulan. Tapi sayangnya, tidak ada misi pendaratan manusia di Bulan pada tahun 2011. Misi pendaratan di Bulan oleh NASA yang terakhir terjadi pada tahun 1976 silam. Manusia tak pernah berkunjung ke satu-satunya satelit alami milik Bumi ini sejak saat itu.
Kedua, suara adzan atau suara apapun dari Bumi tidak akan pernah terdengar dari Bulan. Jarak Bumi-Bulan yang relatif jauh (sekitar 380.000 km) ditambah luar angkasa yang merupakan ruang vakum, sangat tidak memungkinkan sebuah suara dapat merambat di ruang hampa udara tersebut. Sementara pendengaran manusia yang hanya antara 20 hertz sampai dengan 20.000 hertz juga tidak bisa mendegar suara-suara di Bumi ketika berada di Bulan, dan juga sebaliknya.
Sebagai perbandingan, pernahkah Anda mendengarkan suara orang-orang yang berada di dalam pesawat ketika sedang terbang di langit atas rumah Anda? Pesawat terbang tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Bulan, namun mendengarkan suara orang-orang di dalam pesawat tetap tidak mungkin dilakukan.
Jika keimanan didasarkan pada keajaiban-keajaiban, agama Islam begitu menjunjung tinggi rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Agama Islam bahkan memerintahkan agar orang beragama dengan ilmu, bukan sekadar ikut-ikut. Ikut-ikut menipu.
Seringkali kita jadi penyebar hoax tanpa kita menyadarinya karena "kekaguman" pada sejenis keajaiban. Ini sangat berbahaya, menurut penulis, karena kita jadi merasa tidak bersalah bahkan seolah-olah berjasa menguatkan iman, tanpa kita berpikir dan memeriksa informasi tersebut. Bukankah justru kita malah menambah dosa dengan membodohi orang lain?
Dan ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat awam yang sekolahnya hanya SD, tapi juga terjadi di kalangan manusia kelas sarjana. Perlu dicatat bahwa kejelian atau intuisi terhadap sebuah informasi, pada kenyataannya, tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat sekolah kita, tingkat gelar pada nama kita.
Yang mengenaskan tentu saja karena cerita di atas dikaitkan dengan agama, dengan keyakinan, dan sangat riskan jadi bahan olok-olok kepada agama tertentu. Bagi penulis, keimanan yang kuat bukanlah sesuatu yang timbul dari "kesaksian" (apalagi kesaksian palsu yang terus disebarluaskan dan diulang-ulang sehingga ada ribuan orang yang pernah mendengar dan dijadikan justifikasi bahwa cerita itu benar, "karena ada ribuan orang mendengar cerita itu") atas keajaiban.
Keimanan itu dari ilmu. Keajaiban cenderung membuat kita lemah, bukan menguatkan, karena toh di agama lain juga banyak kesaksian soal "keajaiban-keajaiban." Kembali menurut penulis, sebagai orang beriman, kita hanya cukup mempercayai suatu keajaiban, tanpa harus membuktikan keajaiban tersebut.
Lah, bagaimana kalau seandainya ini beneran? Bukan hoax?

Karena "seandainya" akan selalu kalah dengan bukti ilmiah. Mari lebih membuka pikiran.

Source : http://www.infoastronomy.co.vu

Para Astronom Observasi Kelahiran Galaksi-galaksi Raksasa



Info Astronomy - Para astronom di European South Observatory (ESO) telah berhasil mengamati 574 galaksi raksasa yang sebelumnya tidak diketahui menggunakan Teleskop VISTA. Seluruh galaksi ini adalah galaksi raksasa pertama yang terbentuk di alam semesta, antara 1 hingga 1,5 miliar tahun setelah Big Bang.

Galaksi-galaksi raksasa ini memiliki massa setidaknya 50 miliar kali dari massa Matahari, atau sebanding dengan massa galaksi Bima Sakti kita. Menariknya, para astronom ternyata menemukan dua kali lebih banyak galaksi raksasa dari jumlah galaksi yang diperkirakan, yang juga bertentangan dengan model pembentukan galaksi saat ini.

"Kami menemukan 574 galaksi masif baru, sebuah kumpulan galaksi terbesar yang tersembunyi dari alam semesta awal," jelas Karina Caputi, penulis utama studi tersebut, dalam sebuah pernyataan. "Mempelajari mereka memungkinkan kita untuk menjawab pertanyaan sederhana namun penting: kapan galaksi raksasa pertama tercipta?"

Para astronom berasumsi bahwa benih dari bintang-bintang pertama dan galaksi pertama di alam semesta mulai terbentuk sekitar 150 juta tahun setelah Big Bang. Objek-objek kecil tercipta pertama, dan mereka kemudian bergabung untuk membentuk objek yang lebih besar. Prosesnya relatif lambat, bahkan sebuah galaksi raksasa butuh setidaknya miliaran tahun untuk terbentuk sempurna.

Rincian yang tepat tentang bagaimana galaksi raksasa terbentuk untuk kali pertama dan memperoleh massanya yang masif masih misterius, dan memecahkan misteri ini adalah salah satu tujuan penelitian VISTA. Sebuah teleskop yang digunakan untuk mensurvei seluruh langit selatan, dan perlahan-lahan menciptakan sensus galaksi jauh.

Berdasarkan jumlah objek yang diamati oleh tim astronom dari ESO ini, sebagian besar galaksi raksasa yang teramati di alam semesta saat ini sudah terbentuk sejak 10 miliar tahun yang lalu. Galaksi-galaksi ini akan diobservasi lebih lanjut dengan teleskop berbasis darat lainnya, yang diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang bagaimana galaksi raksasa terbentuk.

Makalah studi ini telah dipublikasikan dalam Astrophysical Journal.

Source : http://www.infoastronomy.co.vu

"Diasingkan" dari Sumatera, Kini Pulau Ini Memberi Kejutan bagi Indonesia


KOMPAS.com — "Diasingkan" dari Sumatera oleh proses geologi, Pulau Enggano yang terletak di Provinsi Bengkulu kini memberi kejutan bagi Indonesia. Ekspedisi penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap flora serta fauna khas dan belum dikenal sebelumnya.

Jenis baru flora bahkan dijumpai pada bangsa tanaman yang sudah dikenal luas. Jahe misalnya. Peneliti LIPI menemukan jahe yang tidak seperti jahe umumnya yang dibuat wedang. Jahe yang dinamai Zingiber engganoensis itu berbeda dengan jahe lain dari daunnya yang lebih tipis serta bunganya yang khas.

Amir Hamidy, koordinator ekspedisi Enggano, mengungkapkan bahwa kebaruan spesies jahe itu telah dikonfirmasi dengan analisis DNA. "Bulan depan mungkin sudah akan terbit publikasi spesies baru ini," ungkapnya dalam konferensi pers di LIPI, Kamis (5/11/2015).

Selain jahe, peneliti juga meyakini bahwa jenis salak yang ditemukan di Enggano merupakan jenis baru. Salak itu sekarang dideskripsikan sebagai asam kelubi (Eleiodoxa conferta). Namun, penampakannya mirip dengan salak umumnya, Sallaca affinis. Peneliti menduga, salak itu khas Enggano.

Dari golongan fauna, peneliti LIPI meyakini ada dua jenis burung baru. Salah satu jenis burung baru adalah burung hantu, Ninox spp. Jenis lain adalah raja udang, Alcedo spp. Raja udang di Enggano berbeda signifikan dengan jenis yang sama di Pagai dan Mentawai.

Dari golongan katak, Amir sebagai peneliti amfibi meyakini ada dua jenis baru. Ia mengatakan, setiap katak memiliki bahasa yang berbeda untuk menarik pasangan. "Bahasa antara katak di Bengkulu dengan di Enggano berbeda. Kalau sudah bahasanya berbeda, berarti jenisnya juga berbeda," ujarnya.

Dari spesies-spesies yang telah didata, peneliti memperkirakan ada 14 spesies yang diyakini pasti baru. "Satu tumbuhan, 2 katak sudah yakin baru karena analisis genetiknya sudah keluar, 2 kelelawar, 1 jenis ikan, 2 jenis udang, 2 jenis capung, dan 4 jenis kupu-kupu," urai Amir.

Enggano tidak hanya memberi kejutan karena jenis-jenisnya baru, tetapi juga karena adanya jenis yang tak diduga bisa ditemukan. Salah satunya adalah ular Coelognathus enganensis. Selama 80 tahun, ular itu menghilang. Ekspedisi Enggano pada April-Mei 2015 lalu berhasil menemukannya kembali.

Kejutan lain adalah udang jenis Macrobrachium bariense dan M placidulum. Biasanya, dua jenis udang tersebut dijumpai di timur garius Wallacea atau secara umum di timur Sulawesi. Namun, untuk pertama kalinya, dua jenis itu dijumpai di bagian barat Indonesia.

Dua jenis udang itu dijumpai dalam ukuran yang lebih kecil. Bila di timur garis Wallace ukurannya antara 20-30 sentimeter, di Enggano ukurannya hanya 10-15 sentimeter. Karena itu, para peneliti LIPI meyakini bahwa dua udang tersebut merupakan jenis baru.

Beragam kejutan berupa keanekaragaman hayati bisa dijumpai di Enggano karena pulau tersebut terpisah dari Sumatera. "Karena mengalami isolasi, perkembangan evolusi biotanya juga berbeda. Jadi, biota di Enggano sangat khas dan endemisitasnya tinggi," kata Amir.

Source : kompas.com

Sabtu, 21 November 2015

Eksoplanet yang Mirip Bumi Kemungkinan Tidak Bisa Dihuni


Sebuah eksoplanet yang dianggap paling menyerupai Bumi kemungkinan tidak bisa dihuni akibat banyaknya radiasi yang diterimanya, menurut para ilmuwan.

Dalam Jurnal Mingguan Royal Astronomical Society, para ilmuwan di University of Warwick mengatakan atmosfer Kepler-438b kemungkinan terkikis akibat badai matahari yang dihasilkan oleh matahari planet tersebut, yaitu Red Dwarf Kepler-438.

Para ilmuwan mengatakan badai matahari tersebut berlangsung secara reguler "setiap beberapa ratus hari," dan sering kali jauh lebih kuat daripada badai matahari yang berasal dari matahari kita. Untuk memahami seberapa kuat badai matahari tersebut, para ilmuwan mengatakan kira-kira sama dengan 100 miliar megaton TNT.

Tapi badai matahari tersebut tidak cukup untuk mengikis atmosfer sebuah planet. Lontaran massa korona (coronal mass ejection) atau semburan gas dan medan magnet dari korona matahari dan dilepaskan ke angin matahari, yang menyertai badai matahari bisa mengikis atmosfer dan memaparkannya pada radiasi UV dan sinar X yang merusak.

“Tidak seperti matahari Bumi yang cukup tenang, Kepler-438 terpapar badai matahari kuat setiap beberapa ratus hari, setiap kali semakin kuat daripada badai matahari terkuat yang pernah dihasilkan matahari," kata David Armstrong dari kelompok astrofisika University of Warwick. “Badai matahari ini kemungkinan terkait dengan lontaran massa korona, yang mungkin menyebabkan dampak buruk bagi habitat planet tersebut."

“Bila planet Kepler-438b, mempunyai medan magnet seperti Bumi, mungkin akan terlindung dari efeknya. Namun, bila tidak, atau bila badai mataharinya kuat, planet Kepler-438b bisa jadi kehilangan atmosfernya, dan disinari oleh radiasi berbahaya tambahan lalu akan menjadi tempat yang sulit untuk dihuni."

Kepler-438b diduga ukurannya mirip dengan Bumi dan mempunyai suhu yang sama.

Source : http://www.voaindonesia.com

Rasa Cokelat akan Semakin Beragam

Dalam waktu dekat, pecinta cokelat bisa menikmati cokelat rasa baru.


Dalam jurnal Applied and Environmental Microbiology, peneliti dari Belgia, negara yang terkenal karena cokelatnya, mengatakan ragi lain yang digunakan dalam tahap fermentasi produksi cokelat menghasilkan rasa dan aroma berbeda pada produk akhir.
Tim peneliti semula mencari ragi "kuat" yang bisa mengalahkan jenis ragi lain, yang tidak diinginkan dalam proses fermentasi.
Dalam fermentasi, biji cokelat itu "dikelilingi bubur lengket, yang difermentasi ragi dan bakteri, memungkinkan ragi dan bakteri lain menyusup, kemudian mungkin mengubah rasa dengan cara yang tidak diinginkan," papar peneliti.
Yang terjadi, masing-masing jenis ragi yang kuat menghasilkan karakteristik berbeda pada cokelat, bahkan ketika menggunakan resep yang sama.
Rasa berbeda itu bertahan bahkan setelah biji yang difermentasi itu menjalani proses pengeringan dan pemanggangan.
Source : http://www.voaindonesia.com

Minggu, 15 November 2015

Road to ACSC's Birthday

kyaaaa..!!!!! >< sebentar lagi ACSC bakalan ulang tahun nih …! hanya tinggal menghitung hari kita bisa merayakan hari jadi keluarga besar ACSC yang pertama, gak kerasa banget ya udah hampir mau satu tahun lagi… banyak hal yang udah kita lewatin sama-sama… :” ACSC masih tetep harum meskipun nanti kita udah gak sejalan lagi, udah gak berada di satu atap, tapi yang pasti ACSC Is ACSC and Family Is Family:” wishnya tunggu aja tanggal satu nanti hihi :”D bakalan banyak hal yang di siapin, semua bahkan udah diatur dengan baik, silahkan kunjungi fans page ACSC untuk lihat perkembangan di setiap harinya menuju ulang tahun ACSC!! yeayy!!,… ACSC Siempre En Mi Corazon!! aku bangga jadi salah satu bagian dari keluarga ACSC !! :” (Annisa Mardiana)

 
Copyright © 2014 Alpha Centauri Science Club. Designed by OddThemes