DO NOT MISS

Latest From Technology

Astronomi

Latest from Ponsel & Tablet

Latest from IPTEK

Selasa, 08 Desember 2015

Astronom Berhasil Pelajari Medan Magnet Lubang Hitam untuk Pertama Kali

Info Astronomy - Sebuah tim astronom untuk pertama kalinya berhasil memelajari medan magnet yang berada di sekitar cakrawala peristiwa (event horizon) Lubang Hitam Sagitarius A*, sebuah Lubang Hitam Supermasif yang terletak di pusat galaksi Bima Sakti.

Tim astronom internasional ini menemukan bahwa medan magnet dari Lubang Hitam sangat rumit dan bervariasi. Beberapa bagian dari event horizon (sebuah batas pada Lubang Hitam yang bahkan cahaya tidak dapat melarikan diri) terlihat berantakan dan campur aduk, sementara daerah lain memiliki struktur magnetik yang terlihat dalam berbagai macam pola. Medan magnet juga berfluktuasi secara liar.

"Memahami medan magnet Lubang Hitam ini sangat penting. Sebelumnya tidak ada yang mampu untuk memelajari dan mengamati medan magnet di dekat event horizon sampai sekarang," kata pemimpin penulis studi, Michael Johnson seperti dikutip dari IFLScince.com. "Sekali lagi, pusat galaksi ini membuktikan menjadi tempat yang lebih dinamis dari yang kita duga. Medan magnet menari seluruh wilayah Lubang Hitam."

Lubang Hitam Supermasif yang berada di pusat Bima Sakti ini memiliki massa setara dengan 4 juta kali massa Matahari, danevent horizon-nya terbentang sekitar 13 juta kilometer, atau 40 kali jarak dari Bumi ke Bulan. Sementara itu, Lubang Hitam Supermasif Sagitarius A*  berjarak sekitar 25.000 tahun cahaya dari Bumi, membuat ia takkan berdampak apapun terhadap Bumi kita.

Pengamatan medan magnet Sagittarius A* ini dilakukan dengan menggunakan Event Horizon Telescope, sebuah jaringan global teleskop radio yang menghubungkan para astronom secara bersama-sama untuk memelajari Lubang Hitam di luar angkasa/

Lubang Hitam dapat menghasilkan jet kuat, menembak partikel hampir kecepatan cahaya. Meskipun mekanisme Lubang Hitam untuk menghasilkan jet telah lama dipahami, ini adalah pertama kalinya manusia berhasil melalukan pengamatan langsung dari medan magnet Lubang Hitam.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Science.
Source : http://www.infoastronomy.co.vu/

Wahana Antariksa Akatsuki milik Jepang Dekati Planet Venus

Info Astronomy - Lima tahun setelah hilang momentum untuk masuk orbit Venus, wahana antariksa Akatsuki milik Japan Aerospace and eXploration Agency (JAXA) kini telah menyelesaikan pembakaran roket pada 7 Desember 2015 dalam upaya untuk menjadi satu-satunya wahana antariksa yang mengunjungi Planet Venus.

Empat pendorong manuver milik Akatsuki telah dinyalakan pada pukul 06:51 WIB hari Minggu, 6 Desember 2015 sekitar 20 menit 30 detik untuk memperlambat wahana antariksa ini agar dapat "tertangkap" gravitasi Venus sehingga bisa mengorbit pada ketinggian tertentu.

"Akatsuki dalam orbit Venus!" tulis Sanjay Limaye, seorang ilmuwan keplanetan yang berbasis di University of Wisconsin di Madison, seperti dilansir adri Spaceflightnow, 6 Desember 2015.

Venus berjarak 149.500.000 kilometer dari Bumi pada saat kedatangan Akatsuki dua hari yang lalu. Dengan begitu, butuh sinyal radio lebih dari 8 menit untuk melakukan komunikasi antara stasiun kontrol misi di Bumi dengan wahana antariksa Akatsuki.

Wahana antariksa Akatsuki ditargetkan akan berada pada orbit dengan titik tinggi hingga 475.000 kilometer dari Venus, lebih jauh dari jarak Bumi-Bulan, menurut Takeshi Imamura, seorang ilmuwan proyek Akatsuki di Space and Astronautical Science Institute JAXA.

Akatsuki, menurut Imamura, adalah wahana penyelidik antarplanet pertama di dunia yang layak disebut sebagai satelit meteorologi. Wahana antariksa seberat 480 kilogram itu membawa lima kamera berbeda untuk mempelajari awan Venus, sekaligus memetakan cuaca planet itu dan mengintip permukaan planet lewat atmosfer tebalnya.

Akatsuki yang berarti Subuh atau Dinihari dalam Bahasa Jepang ini akan bergabung dengan wahana antariksa Venus-Express milik Eropa yang telah terlebih dulu mengorbit di sekitar planet terpanas di Tata Surya itu.

"Venus kini telah bertransformasi dari sebuah tempat yang mirip Bumi menjadi tempat asing, dan apa yang menarik tentang planet itu adalah mengetahui bagaimana dia berbeda dari Bumi dan sejarah di balik apa yang terjadi," kata David Grinspoon, kurator astrobiologi di Denver Museum of Nature and Science, ilmuwan dalam misi Venus-Express. "Dia dapat membantu kita memahami bagaimana Bumi mungkin berubah kelak."

Salah satu target utama Akatsuki adalah untuk memahami misteri terbesar Venus, yaitu rotasi super atmosfernya. Berbeda dengan atmosfer bumi yang "ramah", Venus memiliki atmosfer berupa angin kencang yang mendorong awan dan badai mengelilingi planet itu dengan kecepatan lebih dari 360 kilometer per jam, atau hampir 60 kali lipat lebih cepat daripada rotasi planet itu sendiri.

"Tak ada model iklim Venus konsisten yang dapat meniru superrotasi itu," kata Grinspoon. "Kami mengambil pemodelan sirkulasi umum dari Bumi dan mengutak-atiknya agar sesuai dengan Venus, tapi pemodelan itu tidak cocok. Dengan lebih memahami bagaimana iklim Venus bekerja, itu akan membantu kami mengetahui bagaimana perubahan iklim Bumi berlangsung."

Akatsuki akan memonitor Venus dalam sinar inframerah untuk lebih banyak mempelajari atmosfer dan permukaannya di bawah awan tebal tersebut, dan diharapkan dapat mengungkap mekanisme yang mendorong superrotasi itu. Namun Imamura mengatakan timnya telah siap dikejutkan oleh penemuan tak terduga yang mungkin bakal menguak lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. "Kami akan amat senang dikagetkan oleh munculnya misteri yang jauh lebih besar daripada superrotasi," ujarnya.

Venus memang memiliki awan tebal, tapi awannya tersusun dari asam sulfur, bukan air dan kristal es. "Mungkin ada sejenis cuaca yang belum pernah kami lihat di Venus, yang menyebabkan kilat itu, atau mungkin kami keliru soal kondisi yang diperlukan untuk melahirkan sebuah kilat," ujarnya.

Akatsuki akan dapat menangkap petunjuk vital tentang kilat itu dengan sebuah kamera yang khusus dirancang untuk mengabadikannya. Sementara target lain yang diemban oleh Akatsuki adalah menyelidiki garis aneh yang terdapat di lapisan teratas awan Venus, yang dijuluki "blue absorber" karena mereka menyerap cahaya dalam panjang gelombang biru dan ultraviolet dengan amat kuat. Alat pencitra ultraviolet Akatsuki diharapkan bisa menyelidiki garis ganjil itu.

Garis itu amat menarik perhatian para ilmuwan karena aksi tersebut menyerap energi dalam jumlah besar, hampir separuh total energi surya yang diserap Venus. Tampaknya penyerapan itu memainkan peran utama dalam menjaga Venus tetap seperti saat ini, dengan temperatur permukaan lebih dari 460 derajat Celsius. "Kami tak tahu zat apa itu," kata Grinspoon. "Kemungkinan itu adalah sejenis senyawa sulfur, tapi kami belum dapat mengungkapnya hingga saat ini."

Misteri lain yang menanti Akatsuki adalah kabut terang yang tiba-tiba menutupi dua per tiga belahan selatan Venus pada 2007. Kabut itu mendadak lenyap beberapa hari kemudian. Belum diketahui apa yang memicu perubahan tersebut. "Kami menduga itu adalah semacam dinamika perputaran atmosfer yang menyuntikkan sulfur dioksida di atas awan, tapi kami belum bisa memastikannya," ujar Grinspoon.

Awan itu kemungkinan memperoleh pasokan energi dari sulfur yang dimuntahkan gunung-gunung berapi di Venus karena Grinspoon menduga sulfur yang terlihat di atmosfer seharusnya terurai setelah 10 hingga 30 juta tahun.

Namun awan Venus begitu tebal dan tak pernah ada yang melihat keberadaan gunung berapi di planet itu sehingga para ilmuwan dalam proyek Akatsuki berharap kamera satelit itu bisa menemukan gunung api aktif di balik awan tersebut. "Venus menjaga rahasianya rapat-rapat, dalam sebuah kondisi yang tak bisa ditembus," katanya.

Source : http://www.infoastronomy.co.vu/

Cassini Intip Permukaan Titan yang Ditutupi Kabut Tebal


Info Astronomy - Ini merupakan citra inframerah gabungan dari satelit alami terbesar milik Planet Saturnus, Titan, yang diambil pada 13 November 2015 oleh wahana antariksa Cassini milik NASA. Cassini memotretnya dengan instrumen bernamaVisual and Infrared Mapping Spectrometer (VIMS), di mana biru mewakili panjang gelombang yang berpusat di 1,3 mikron, hijau mewakili 2,0 mikron, dan merah mewakili 5.0 mikron.

Pandangan pada panjang gelombang tampak (berpusat di sekitar 0,5 mikron) hanya menampilkan suasana berkabut Titan. Panjang gelombang inframerah pada citra ini memungkinkan wahana antariksa Cassini untuk menembus kabut dan mengungkapkan permukaan Titan.

Selama terbang lintas dekat dengan Titan ini, wahana antariksa Cassini berada pada ketinggian 10.000 kilometer dari Titan, yang jauh lebih tinggi daripada terbang lintas dekat biasanya, yang sekitar 1.200 kilometer. Terbang lintas yang tidak terlau dekat ini memungkinkan instrumen VIMS untuk mengumpulkan pandangan dengan resolusi yang luas untuk memetrakan permukaan Titan.

Pada citra yang luar biasa menakjubkan ini menunjukan fitur paralel, permukaan gelap, daerah gundukan bernama Fensal (di utara) dan Aztlan (di selatan), yang membentuk huruf "H" terbalik di sekitar ekuator.

Titan yang Lebih Laik Huni Dibanding Mars
Selama ini, banyak orang berpikir bahwa Mars adalah planet yang paling laik dihuni setelah Bumi. Bisa dipahami memang, sebab Mars adalah planet yang paling sering digembar-gemborkan memiliki potensi untuk mendukung kehidupan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa ada tempat lain yang lebih mirip Bumi sehingga bisa dikatakan lebih laik huni.

Dr Dirk Schulze-Makuch dari Washington State University dalam publikasinya di jurnal Astrobiologi menyatakan, dalam pemeringkatan bahwa Titan, adalah benda langit paling laik huni, mengalahkan planet merah, Mars.

Dalam Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet yang dikembangkan, Titan meraih skor tertinggi. Bumi memiliki indeks 1. Sementara Titan adalah 0,64, diikuti Mars (0,59), disusul Europa yang merupakan satelit alami milik Jupiter (0,47).

Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet itu dikembangkan berdasarkan beberapa kriteria. Beberapa di antaranya adalah keberadaan batuan, air, energi, material organik, dan jarak planet dari bintangnya. Titan punya potensi laik huni sebab terbukti memiliki air dan energi.

Source : http://www.infoastronomy.co.vu/

Meyambut Gerhana Matahari 2016: Bagaimana Cara Aman Melihat Gerhana?


Info Astronomy - Sebuah peristiwa Gerhana Matahari Total bakal lintasi Indonesia pada 9 Maret 2016. Sebelum itu, kita harus hati-hati saat mengamati gerhana nanti, sebab sinar Matahari yang begitu terang dapat membakar retina mata dan membuat kebutaan. Berikut ini kami jelaskan bagaimana cara-cara aman melihat gerhana.


Dalam kehidupan sehari-hari, menatap Matahari secara langsung sangat berbahaya karena Matahari memancarkan sinar inframerah yang bisa merusak mata kita. Ketika terjadinya gerhana Matahari, mungkin kita akan jadi tergoda untuk menatap Matahari secara langsung.

Dampak buruk yang dapat terjadi apabila Anda melihat peristiwa gerhana matahari secara langsung bisa dari buta sementara, dalam kasus tertentu buta selama 2 hari hingga 3 bulan, atau kerusakan mata yang permanen atau buta selamanya.

Cara paling aman melihat gerhana matahari ialah dengan melakukan proyeksi menggunakan kamera pinhole (kamera lubang jarum) atau proyeksi menggunakan teleskop yang diarahkan ke Matahari dan akan memunculkan gambar Matahari ke selembar kertas. Sangat penting untuk diingat, jangan melihat matahari secara langsung dengan teleskop, cukup gunakan teleskopnya hanya sebagai proyektor.

Cara aman lainnya yaitu dengan menggunakan kacamata khusus untuk melihat gerhana Matahari, karena kacamata hitam biasa saja tidak cukup aman. Kacamata khusus ini memiliki filter yang aman untuk dipakai. Selain itu filter yang aman untuk melihat gerhana Matahari juga tersedia untuk teleskop ataupun teropong, jadi bisa digunakan untuk menikmati gerhana Matahari.

Ketika terjadi gerhana Matahari total, pada saat seluruh permukaan Matahari tertutupi Bulan, kita dapat melihat secara langsung ke arah Matahari tapi hanya untuk beberapa saat saja, dalam kisaran beberapa detik sampai beberapa menit saja. Harus mulai siap-siap ketika bulan sudah kelihatan bergerak pergi dan sedikit permukaan matahari mulai muncul lagi, segera melakukan lagi cara melihat yang aman.

Cara lainnya, adalah menggunakan air yang diisi kedalam bak besar. Anda dapat melihat gerhana Matahari dengan menghadap ke air di bak tadi (yang sudah diarahkan ke posisi gerhana Matahari). Selain tidak terlalu silau sehingga aman, cara ini adalah cara paling murah dan sederhana.

Jadi, sudah tahu mau melihat Gerhana Matahari 9 Maret 2016 nanti seperti apa? Simak informasi gerhana ini di sini untuk info daerah mana saja yang kebagian Gerhana Total dan Gerhana Sebagian.


Source : http://www.infoastronomy.co.vu/

VIDEO: Bagaimana Cara Astronot Tidur di Stasiun Luar Angkasa?


Info Astronomy - Di Bumi tercinta ini, kita biasa tidur dengan posisi badan direbahkan ke kasur atau alas tidur lainnya. Kita bisa melakukan hal itu karena di Bumi ada gaya gravitasi. Tapi bagaimana jika kita tidur di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang gravitasinya lemah?

Inilah kesulitan yang akan ditemui oleh para astronot yang tinggal di dalam ISS. Astronot tidak bisa merebahkan badannya di tempat tidur atau alas tidur. Jadi, bagaimana mereka tidur? Mereka tidur dengan mengikat badannya di dinding ISS, hal ini agar mereka tidak melayang-layang. Kan tidak lucu kalau saat bangun tiba-tiba sudah di Bulan. Hehehe.

Untuk lebih lengkapnya, silakan simak video di bawah ini.
Source : http://www.infoastronomy.co.vu/



 
Copyright © 2014 Alpha Centauri Science Club. Designed by OddThemes